Tak ada yang perlu ditangisi” Kata Gio sambil menghapus air mataku.
Aku tak mungkin semudah itu bisa melepaskan kepergiannya begitu saja.
Sosok yang sudah kucintai selama dua tahun itu akan segera pergi ke luar
negeri untuk meninggalkanku, meskipun aku tau dia disana untuk
kepentingan orangtuanya namun aku tak mungkin melepaskannya begitu saja.
Ini terlalu berat untukku, aku bukanlah wanita yang setegar batu karang
yang mampu menerjang ombak sendirian. “Tapi aku tak mungkin bisa jika
kamu tak di sampingku” jawabku sambil terus meneteskan air mata. “aku
yakin kamu bisa melewati hari hari tanpa aku, aku tau kamu kuat” Ucap
Gio menyemangatiku. Kemudian aku menggenggam tangan Gio dan menatap
wajah yang akan meninggalkanku itu. “Aku kuat jika ada kamu”. Tapi Gio
hanya tersenyum menatapku seakan ingin membuatku merasa lebih tenang,
tapi aku tak bisa menutupi semuanya bahwa aku tak menginginkannya pergi
meski itu hanya sementara.
“Aku janji aku akan kembali untukmu”. Aku hanya bisa diam dan sejenak
untuk membuat diriku merasa lebih lega atas perkataannya itu. “Janji”
ucapku penuh harap namun dia hanya tersenyum namun aku juga melihat
kesedihan di raut wajahnya seperti Ia tak mungkin menepati janjinya.
Namun aku mencoba untuk berusaha melepasnya dan memegang perkataannya.
“Mungkin ini saatnya aku akan pergi, simpan ini baik-baik ya” Ucap Gio
seraya memberiku sebuah bungkusan berpita ungu itu. “Ini apa?” tanyaku.
“Kamu hanya boleh membukanya ketika aku pergi”. Aku hanya mengangguk
tanda mengerti. Sebelum Gio pergi Ia memelukku sejenak aku menangis
dalam pelukannya, aku tak menyukai perpisahan aku benci itu. Mengapa
harus ada perpisahan di setiap pertemuan? bukankah itu meyakitkan? aku
terus bertanya dalam hati, setelah memelukku Ia kembali ke rumahnya dan
bersiap untuk berangkat besok.
Keesokan harinya aku mengantarkannya untuk ke bandara untuk
melepaskan kepergiannya. “Hati hati disana sayang, jaga cintamu untukku”
ucapku kepada pria yang sangat kucintai itu. “Jangan khawatir hati ini
hanya untukmu” kata Gio meyakinkanku. Kemudian dia pergi meninggalkanku
sendiri. Dalam hati aku hanya bisa bersabar menunggunya kembali dan
mencoba untuk percaya terhadapnya.
Sekembalinya aku di rumah aku segera meraih bungkusan berpita ungu
dari sudut mejaku, aku membukanya perlahan lahan. Aku menemukan sebuah
surat dan buku diary ungu. Kemudian aku membuka surat itu perlahan dan
membacanya kata demi kata.
“Jika waktu dapat ku ubah, aku akan merubahnya disaat pertama bertemu
denganmu karena disaat itulah aku merasakan bahwa aku tak akan menjauh
darimu. Tapi aku percaya Tuhan selalu mempunyai rencana indah dis etiap
cerita kehidupan. Jangan pernah menteskan air mata lagi karena itu hanya
menghanyutkan kecantikanmu. Aku ingin suatu saat nanti aku bisa
berjumpa denganmu meskipun aku tak tau itu kapan. Maafkan aku tidak bisa
sepenuhnya berjanji padamu tapi aku akan melakukan semampu yang kubisa,
aku memberimu buku diary itu agar kamu bisa mencurahkan perasaanmu
padaku lewat diary itu. Anggaplah diary itu adalah aku, aku yang selalu
mendengarkan segala keluh kesahmu. Lupakan kesedihanmu dan tersenyumlah
untukku”
Aku hanya bisa terdiam dan terpaku pada deretan kata di atas selembar
kertas putih itu. Mungkin aku harus berusaha tegar untuknya, aku tak
boleh terlarut dalam kepergiannya karena aku yakin pasti itu hanya
sementara. Mulai hari itu aku berusaha untuk menjadi wanita kuat
meskipun tak ada yang menemani. Namun terkadang di sekolah aku sempat
iri dengan teman temanku yang memiliki pasangan. “Huft, bahagianya
mereka dapat selalu bersama” Gumamku. Sebisa mungkin aku menghindar dari
pasangan pasangan yang membuatku merasa iri dan merindukan kekasihku.
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 dan bel sekolah sudah berbunyi tiga
kali yang menandakan pulan. Aku berjalan ke depan dan mengambil posisi
duduk yang menurutku enak untuk menunggu jemputanku tiba. Tiba tiba
sesosok cowok keren bertubuh tegap menghampiriku dan duduk di sebelahku,
aku sempat merasa risih dengannya tapi aku berusaha untuk membuat
suasana seperti biasa. “sendirian aja?” tanyanya padaku. Namanya Rendi,
dia adalah cowok populer di sekolahku banyak cewek di sekolahku yang
mengaguminya entah apa yang dikagumi tapi yang ku tahu dia adalah cowok
play boy yang kubenci.
“Iya” jawabku singkat. “Mau aku anter?” katanya menawarkan diri. Dalam
hati aku tak percaya cowok seperti dia mau mengantarku pulang, mungkin
itu hanya akal akalannya saja untuk memperoleh simpati terhadapku karena
banyak kabar yang aku dengar bahwa dia selalu ingin memperoleh simpati
terhadap setiap wanita incarannya untuk meluluhkan hati mereka, tapi
bagiku itu cara kuno. “enggak, makasih” jawabku cuek. “kok cuek banget
sih jawabnya?” katanya memelas. Aku hanya diam dan terus terusan
memperhatikan jam tanganku, aku mulai risih dengannya tapi aku rasa
Tuhan baik terhadapku sehingga sopirku tak lama datang menjemputku.
“Hmm, kapan kapan ngobrol lagi ya, jemputanku udah dateng tuh” sahutku
seraya bergegas pergi meninggalkannya. “Huft, selamet deh dari cowok
itu” gumamku.
Sesampainya di rumah aku membuka handphoneku dan melihat apakah ada
pesan disana, ternyata benar itu pesan dari Gio. “Selamat siang sayang,
jangan lupa makan siang, aku mencintaimu”. “Iya sayang, tenang saja aku
juga mencintaimu” balasku. Kemudian dia tidak membalasnya lagi “mungkin
dia sedang sibuk” gumamku sambil menenangkan hatiku.
Aku meraih sebuah buku diary ungu dan mulai menuliskan kata kata yang
kualami hari ini, mulai dari cerita Rendi yang menghampiriku tadi waktu
sekolah hingga aku bergitu merindukan Gio semua kutulis sesuai yang
kualami hari ini.
Keesokan harinya lagi dan lagi Rendi menghampiriku, Ia mengajakku
untuk menemaninya jalan jalan. Aku hanya hanya menggeleng gelengkan
kepalaku dan mencari cari alasan untuk menolaknya. Hari demi hari dia
terus mendekatiku, dia selalu memberiku benda benda yang aku suka. Dia
mengerti sekali akan aku, sikapnya mengingatkanku pada Gio.
Suatu ketika saat aku pulang sekolah aku berjalan melewati trotoar,
hari itu aku memang sengaja tak mau dijemput karena ingin berjalan jalan
sebentar untuk menyegarkan fikiranku.Tak ku sangka seorang pengendara
motor yang ugal ugalan mendekat ke arahku dan “Brakkk!!!” aku terejatuh
dan pengendara itu kabur. Aku hanya bisa merintih kesakitan karena tak
ada satu orang pun yang menolongku. Tiba-tiba cowok keren dan berbadan
tegap itu mendekat ke arahku tampak samar samar olehku dia mencoba untuk
membantuku, namun mungkin karena tak kuat menahan sakit aku memejamkan
mataku dan tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mataku tampak samar samar olehku sebuah kamar bercat
ungu berhias bintang bintang dan sepertinya aku mengenal kamar itu. Ya,
itu kamarku. “Bagaimana aku bisa ada disini, siapa yang mengantarku?”
kataku dalam hati. Karena mengetahui aku sudah sadar mama mendekatiku
dengan wajah paniknya. “Kamu sudah sadar Nda?” kata mama yang tampak
sangan cemas kepadaku. Aku hanya mengaggukan kepala. “Tadi Rendi yang
mengantarkanmu kesini, dia melihatmu pingsan di tengah jalan karena
tertabrak motor jadi dia membawamu pulang” kata mama menjelaskan. “Lalu
Rendi mana ma?” tanyaku. “Dia sudah pulang sayang, besok kamu harus
menemuinya ya, untuk berterimakasih padanya”. “Iya ma, itu pasti”.
Kemudian mama meninggalkanku dan menyuruhku agar untuk segera makan lalu
minum obat agar kondisiku cepat membaik.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada Rendi kami berdua semakin
akrab dan dekat. Aku merasa dia berbeda dari biasanya, dan aku mulai
memendam pikiranku yang mengganggapnya cowok play boy. Hari demi hari
selalu kulalui bersamanya dan tanpa sadar aku sudah melupakan Gio yang
notabene masih kekasihku. Aku tak pernah memperdulikan pesan maupun
telponnya karena aku sudah merasa bahagia dengan Rendi. Hingga suatu
ketika Gio mengirimiku sms “Sayang, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu
dan aku ingin bicara padamu” setiap hari dia selalu megirimiku pesan dan
selalu berkata jika ia ingin mengatakan sesuatu padaku tapi aku tak
peduli dengan itu, aku hanya membacanya dan tidak membalas pesan itu.
Aku sudah dengan dunia baruku aku sudah melupakan buku diary ungu itu,
aku sangat jarang sekali menulis disitu bahkan untuk membukanya pun aku
malas.
Aku dan Rendi sudah semakin dekat bahkan kami sudah dibilang
berpacaran. Ya, aku selingkuh di belakang Gio aku mengabaikan janjiku
padanya. Saat pulang sekolah aku membuka handphoneku dan masih seperti
biasa disitu ada pesan dari Gio “sayang aku merindukanmu, aku harus
memberitahumu sesuatu”. Aku hanya membalas pesannya dengan nada ketus
“Maaf sayang aku sibuk! untuk sementara ini jangan menghubungiku” dan
benar sejak saat itu Gio tak pernah mengirimkan pesan untukku.
Hingga suatu ketika aku melihat Rendi sedan berkumpul dengan teman
temannya, dan tanpa sengaja aku mendengar percakapan di antara mereka.
“Hebat lu Ren bisa dapetin Manda” kata salah satu temannya. “Haha, ya
jelaslah gua gitu siapa sih yang gak bisa ditaklukin sama gua, sekarang
mana uang taruhan buat gua” kata Rendi yang cukup membuatku kaget dan
tak percaya. “Ini buat lu, jumlahnya satu juta pas kan?”. “Ah, senang
gua berbisnis sama lu pada” ucap Rendi dengan nada sombong. Kemudian aku
mendekatinya dan menamparnya “Sialan kamu, teryata kamu bohongin aku
Ren, aku kira kamu sayang sama aku” Ucapku sambil menangis. “Sayang sama
lu? jangan ngimpi deh, lu tu cewek jelek dan cuek mana mau gua sama lu,
semua gua lakuin demi uang. makasih ya udah mau jadi pacar gua dan
sekarang kita putus karena gua udah dapetin apa yang gua mau” kata Rendi
penuh kemenangan. “Semoga kamu dapet karma” kemudian aku berlari sambil
menangis aku tak percaya akan ini semua, aku memang benar benar bodoh
aku mengabaikan Gio demi orang seperti dia.
Kemudian aku segera mengirim pesan kepada Gio aku ingin meminta maaf
padanya namun setelah menunggu lama tak kunjung aku mendapatkan balasan
darinya. Aku semakin larut dalam kesedihan, aku memang terlalu bodoh.
Aku mengambil buku diary unguku dan mulai mencurahkan semua isi hati
pada diary itu. Hari demi hari kulewati sendiri. Gio yang dulu selalu
menemaniku meski hanya lewat telpon dan pesan kini tak ada kabar
terlebih aku sering melihat Rendi berganti ganti pasangan yang membuatku
semakin muak akan hidupku.
Dua hari lagi adalah ulang tahunku dan buku diaryku tinggal dua
lembar itu artinya tepat di umurku yang ke tujuh belas akan habis semua
ceritaku yang kuceritakan pada Gio. Tapi aku masih tetap berharap jika
Ia mau mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Tepat pukul dua belas
malam dan tepat di lembar terakhir aku menuliskan harapanku di ulang
tahunku yang ke tujuh belas. Aku berharap aku bisa mendengar atau
menerima pesan dari Gio, aku benar benar sangat merindukannya.
Keesokan harinya mama dan papa segera membangukan aku dari tidurku
dan memberiku ucapan selamat ulang tahun. Mereka memberiku hadiah yang
ku inginkan yaitu liburan ke Bali. Saat aku membuka pintu aku melihat
sebuah bungkusan hadiah bersampul cokelat dan sepucuk surat. Aku membuka
bungkusan itu perlahan dan itu adalah sebuah boneka teddy bear berwarna
ungu. Boneka yang sangat kuinginkan. Aku membaca surat itu perlahan
lahan dan aku mulai meneteskan air mata
Dear Amanda,
Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah berada bersama dengan
Tuhan. Maafkankan aku telah meninggalkanmu lebih dulu tanpa harus
memberitahumu. Aku sudah berusaha untuk memberitahumu akan penyakitku
tapi mungkin kamu sedang sibuk dan aku berusaha untuk mengerti. maafkan
aku tak memberitahumu dari awal, aku ingin menunggu saat yang tepat
untuk memberitahumu karena aku takut kamu akan pergi meninggalkanku saat
kau tahu tentang penyakitku. Aku pergi meninggalkanmu ke luar negeri
bukan untuk mengikuti orangtuaku, tapi aku disana untuk berobat agar aku
bisa tetap bertahan demi kamu. Tapi Tuhan berkata lain, aku harus ikut
dengannya karena mungkin tugasku untuk menjagamu telah usai. Jangan
sedih sayang, karena itu hanya menghapus kecantikanmu. Maafkan aku,
bukan maksudku untuk tidak membalas pesanmu, tapi kondisiku lah yang
menghalangiku untuk memberi kabar kepadamu. Jika aku boleh memilih aku
tak ingin seperti ini tapi inilah takdir, aku tak bisa menentangnya aku
memang mencintaimu tapi Tuhan lebih mencintaiku. Perlu kamu ketahui aku
menulis surat ini dengan sisa nafas dan tenaga terakhirku, aku ingin di
sisa hidupku hanya untuk membuatmu merasa senang. Selamat ulang tahun
sayang, maaf aku tak bisa langsung mengatakan ini di hari ulang tahunmu,
tapi semoga boneka ini bisa sedikit menghilangkan kerinduanmu untukku.
Aku telah usai menjagamu di sepanjang hidupku, aku juga telah usai
menjaga cintamu di hatiku. Terimakasih atas cintanya, jangan sedih peri
kecilku. Sekali lagi maafkan aku, meskipun aku jauh darimu namun aku
akan tetap menjagamu, ya menjagamu lewat doa. Aku mencintaimu.
From: Gio
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis sambil memeluk boneka itu,
aku menyesal telah mengabaikan cintanya, aku menyesal telah selingkuh
di belakangnya, aku menyesal telah mengkhianati janjiku. Maafkan aku
Gio.
SURAT TERAKHIR
Diposting oleh
Indah setiawati
|
Label:
story of love
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Happy Valentine
Diberdayakan oleh Blogger.






0 komentar:
Posting Komentar